16 November 2008

Tuhan Kecil

Salah satu teman gw pernah bercerita tentang temannya lagi. Let’s say this friend of mine called Adjie and his friend’s name is Fanya. Adjie ini orangnya tukang cerita – setiap ketemu dia cerita berbagai hal, tentang dia dan tentang orang-orang di dalam hidupnya.

“Dulu waktu di kota tinggal gw yang lama, gw pernah punya temen. Namanya Fanya.”
“Ada apa dengan Fanya?” Pasti Adjie punya cerita baru, gw pikir.
“Ngga, kemaren di FS dia message-in gw. Gw jadi inget aja.”
“Oh…”“Gw kesyan sama Si Fanya!”
“Lah, emang kenapa dia? Lagi kena musibah?”
“Bukan. Ni gw ceritain deh.”
Sok aja…”
“Dulu Fanya ini tinggal bareng bokap nyokapnya, tapi ternyata bonyoknya ada masalah. Dia jadi korban broken home. Intinya bokapnya abusive, dan dia ngga tahan jadi dia kabur dari rumah.”
“…”
“Terus dia ketemu sama satu cowo dan akhirnya mereka pacaran. Kebetulan cowonya ini orang kaya. Jadi dia tinggal bareng cowonya. Ya, semua biaya hidupnya ditanggung si cowo – termasuk biaya kuliahnya.”
“Oh, domestic partnership?”
“Ya, ngga juga. Cowonya punya rumah, tapi sering nginep di kosannya Fanya.”
“Ya, mau gimana lagi – dia juga sih yang bayar,” gw berkomentar. “Mereka pasti berhubungan kan?”
“Iyalah. Nah di sini kesyannya, Gab.”
“Kenapa?”
“Si cowo itu ternyata selingkuh.”
“Lah, jadi si Fanya ini diselingkuhin? Jangan bilang udah lama.”
“Ya, ternyata udah lama.”
“Terus putus?”
“Itu dia masalahnya. Dia ngga bisa putus, dong… Nanti dia mau tinggal di mana?”
“Pindah kos ajalah!”
“Kan dia hidup dari pacarnya, Gab…”
“Ya kerja aja! Daripada diselingkuhin terus.”
“Masalahnya dia udah kasih semuanya kan, ke pacarnya…”
“Jadi, gimana akhirnya?”
“Dia pindah bareng kakaknya.”
“Cewe juga?”
“Iya. Nah, ternyata kakaknya juga ada masalah sama pacarnya (pacar si kakak).”
“Lah apa hubungannya sama Si Fanya? Emang masalahnya berat?”“Ya dia jadi keseret-seret. Emang gw liat-liat pacar kakaknya ngga bener juga. Abusive juga.”
“Terus?”
“Fanya kabur lagi. Gw udah keburu pindah kuliah ke sini. Kemaren gw baru dihubungin lagi.”
Gw pun hanya berakhir dengan “Oh.”

Sebenernya, di dalem hati gw lanjutin: “Oh, itu sih judulnya IDL (Itu Derita Loe – jadi inget Dewa, hehe…).” Manusia itu diciptakan Tuhan pasti dalam keadaan baik dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan hal-hal yang baik pula di dalam hidupnya. Setiap manusia pasti diberikan hati nurani, sehingga waktu manusia ngga punya pengetahuan akan salah/benar – manusia bisa mendengarkan hati nuraninya. Karena hati nurani yang diciptakan Tuhan pasti akan membawa manusia kepada kebaikan. Karena Tuhan itu baik.

Mungkin dalam hal ini, gw agak sedikit ‘rohani’ – halah! Dalam kepercayaan gw, dikatakan bahwa manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Gw ngga tau apakah di kitab suci lainnya, ada ayat yang bermakna sama dengan hal tersebut. Yang pasti gw bersyukur bahwa kepercayaan gw mengajarkan hal tersebut. Karena artinya, kita sebagai manusia memiliki karakteristik Allah – pada dasarnya, dari pertama kali diciptakan. Lalu gimana kita jadi berubah, sampe kaya GINI? Haha… Kaya gw GINI. Ya itu pasti karena sebagai seorang bayi manusia belum memiliki kemampuan apa-apa, lingkungan pun menjadi salah satu faktor utama pembentuk karakteristik seorang anak. Baik atau buruknya seorang anak, ditentukan oleh lingkungannya – tapi suara hati ngga pernah mati di dalam diri manusia. Hati nurani hanya bisa menjadi tidak dominan karena keadaan, bukan mati atau menjadi tidak ada. Sejahat-jahatnya manusia, pasti ada satu titik di mana dia dihadapkan pada pilihan – baik dan buruk, benar dan salah. Di mana dia harus memilih, untuk mendengarkan hati nuraninya dengan teliti atau tidak. Hati nurani pasti akan membawa manusia kembali kepada keberadaan yang utuh sebagai manusia.

Setiap hasil karya seorang pencipta pasti memiliki ciri khas, atau style signature si pencipta yang menempel pada karya tersebut. Sama juga dengan manusia. Pasti kita memiliki style signature-nya Tuhan yang nempel pada DIRI kita. Ini sih, bukan ajaran agama gw aja – tapi gw yakin semua agama ngajarin hal ini. Ini sih logika! Tuhan yang menciptakan pasti Tuhan yang baik. Buktinya, dia menciptakan manusia – ngga buat dirusak, tapi untuk dipelihara dan dididik. Dia pengen ada Dia di dalam setiap manusia. Karena itu kita dikasih tumbuhan dan hewan untuk dikuasai. Tuhan adalah penguasa, jadilah kita penguasa-penguasa kecil di bumi. Tuhan menciptakan dunia dan seisinya, dengan manusia sebagai ciptaan tertinggi. Tuhan itu pencipta, maka kita pun diberikan otak untuk berpikir dan MENGHASILKAN sesuatu – jadilah kita kreator-kreator kecil.

Mungkin hal ini yang belum pernah terpikirkan oleh Fanya. Bahwa manusia adalah penguasa dan kreator. Manusia seharusnya berkuasa atas hidupnya, dan bukan dikuasai oleh hidupnya. Manusia seharusnya mampu menciptakan kehidupannya, dan bukan diciptakan oleh kehidupannya. Manusia adalah kreator dan penguasa – di dalam hidupnya sendiri. Tepatnya, manusia adalah kreator dan penguasa kehidupannya setelah Tuhan. Fanya belum tau ini.

Fanya tidak sadar, sebenarnya dia punya kapasitas yang besar. Karena itu dia diberikan masalah dan tanggung jawab yang besar juga di dalam hidupnya. Seharusnya dia bersyukur bahwa kapasitasnya lebih besar dibandingkan orang lain. Mungkin kalau Fanya tau, dia ngga akan kabur dari awal tapi menghadapi kenyataan dengan keyakinan: bahwa dia adalah kreator dan penguasa hidupnya.

Why Men Marry???

Gw baru aja baca salah satu majalah bulanan wanita edisi Oktober. Salah satu artikelnya bercerita tentang alasan para laki-laki menikah. Well, dulu gw pernah baca artikel di salah satu majalah kalangan sendiri bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah: Laki-laki menikah untuk mendapatkan seks dan perempuan memberikan seks untuk mendapatkan pernikahan. Di majalah yang lain, gw juga pernah baca: Men give love for sex and women give sex for love. Gw agak bingung, dan ngga terlalu yakin dengan pernyataan tersebut. Gw masih berpikiran POSITIF bahwa laki-laki pasti menikah karena cinta.

Haha, ternyata setelah gw baca artikel di majalah tersebut nampaknya gw harus menerima kebenaran pernyataan tersebut. Iya, mungkin laki-laki menikah karena cinta – tapi persenannya lebih sedikit kalau dibandingkan seks. They know they cannot get it forever, they cannot be served forever – if they don’t marry. Ternyata alasan para laki-laki untuk menikah PADA UMUMNYA, ya untuk seks. Contoh: ‘biar halal’, ‘udah ngga tahan’, ‘biar ngga banyak dosa’, dan sejenisnya. Yes, we know what IT refers to: SEX.

Gw rada ngga terima juga sih bacanya, tapi itu kenyataan! Haha… That’s why women and men marry each other, simply because they complete each other. Men need sex, women offer sex. Women need love, men offer love. Semuanya lewat satu lembaga: pernikahan. OK, gw ngga mau bahas soal pernikahannya – ngga ngerti. Ini hanya tentang salah satu dari sekian banyak fakta tentang hubungan laki-laki dan perempuan, bukan tentang pernikahannya. Gw masih percaya bahwa dalam pernikahan pasti ada cinta, entah berapa persen – entah datang duluan atau datang belakangan. Entah stabil atau labil, entah tetap atau pudar, entah si pernikahannya sendiri berujung pada cinta atau pada seks.
But there’s this one thing:

Women marry men hoping they will change. Men marry women hoping they will not. So each is inevitably disappointed. (Albert Einstein)

Mungkin inilah salah satu penyebab perpisahan atau kegagalan pernikahan, hahaha… Mungkin masih banyak perempuan kaya gw yang rada ngga terima dan punya keinginan menyangkal fakta tersebut: laki-laki menikah untuk seks. Kita berharap bahwa lama-lama rasa cinta mereka akan mendominasi hawa nafsu mereka. I think there would be times when love in marriage is so strong, dan mengalahkan seks. But they are just several times, entah sering atau kadang-kadang tapi ngga selamanya…

A way of life: DRESSING

Ada satu hal yang membuat gw merasa diri gw aneh – hanya karena pendapat gw berbeda dengan orang-orang lain. Dalam salah satu mata kuliah, kami diberi tugas untuk menciptakan sebuah kampanye. Pertama, kami mengambil tema lalu mencari masalah dan memberikan solusinya. Tema kampanye dibagi ke dalam empat kelompok: kesenian, kebudayaan, lingkungan, dan politik.

Salah satu teman mendapatkan kesempatan untuk membuat kampanye bertemakan budaya. Ia, dan pasangannya (tugas ini dilakukan per kelompok sebanyak dua orang dalam setiap kelompok) memilih untuk mengangkat batik ke dalam permasalahan. Setelah berbagai analisa yang mereka lakukan – mereka membatasi permasalahan mereka untuk fokus kepada penggunaan motif-motif agung batik yang digunakan di bagian bawah tubuh. Sebenarnya hal ini merujuk kepada produk Adidas, iya – sepatu, yang menggunakan beberapa motif batik keagungan Indonesia sebagai cover sepatunya. Plus motif tersebut ditindih logo Adidas yang berupa tiga garis, yang terbuat dari material kulit.

Inilah permasalahannya. Mereka menganggap penggunaan motif-motif keagungan di bagian kaki (yang mana merupakan bagian terendah dari tubuh) adalah pelecehan terhadap nilai-nilai budaya Bangsa Indonesia. Belum lagi, salah satu motif yang digunakan adalah motif Garuda, di mana Garuda adalah lambang Negara Indonesia. Intinya aplikasi motif-motif batik keagungan pada sepatu Adidas merendahkan nilai budaya bangsa kita.

Mungkin gw memang aneh, atau otak gw udah kebalik tapi menurut gw hal tersebut bukanlah sebuah masalah besar. Ngga apa-apa. Kenapa kalo ada sepatu berwarna merah putih ngga dibilang merendahkan nilai kedaulatan Bangsa Indonesia? Sama saja kan, dua-duanya di kaki. Mungkin kalau merah-putih ngga terlalu kelihatan sebagai BENDERA, karena hanya warna. Bukannya, justru dengan mengaplikasikan motif batik (entah keagungan atau tidak) di sepatu akan membuat batik semakin go public?

Sekarang, prestise seseorang terutama dinilai oleh gaya hidup. Kenapa? Ya, gampangnya karena gaya hidup menunjukkan bagaimana orang tersebut menghabiskan uangnya dan seberapa banyak uang yang dia habiskan demi gaya hidup. Yvess Saint Lauren bilang: “In the past people were born royal. Nowadays royalty comes from what you do.” Mode adalah salah satu bagian dari gaya hidup – keduanya tidak terpisahkan. Mode menunjukkan prestise dan kedudukan seseorang di dalam masyarakat. Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar pula pengaruhnya.

Clothes make the man. Naked people have little or no influence on society. (Mark Twain)

Ketika pertama kali bertemu dengan seseorang, kesan pertama kita menentukan kedudukannya di dalam masyarakat pada benak kita. Biasanya, beberapa ‘patokan’ untuk melihat status seseorang, ketika pertama kali bertemu adalah: tas, sepatu, jam tangan, luaran, kacamata, dan aksesoris lainnya (plus penampilan tubuh – high or low maintanace). Gw lagi ngomongin yang nempel di badan, lho – kalo kendaraan mah belum tentu bisa dilihat pas pertama kali ketemu. Biasanya, kita akan mampu membedakan, orang yang menggunakan kacamata merek A berasal dari kelompok apa, yang menggunakan kacamata merek B berasal dari kelompok apa, dan orang yang menggunakan kacamata palsuan merek A berasal dari kelompok apa.

Kenapa ngga baju yang jadi patokannya? Hm, mungkin karena baju lebih dinamis daripada sepatu, tas, jam tangan, luaran, kacamata, dan aksesoris. Maksudnya, model baju lebih mudah berganti dan material yang digunakan pun bisa lebih variatif. Nah… Kalau sepatu, dkk. kan cenderung lama untuk berubah bentuk, dan material yang digunakan pun tidak sevariatif baju. Kalau sepatu yang mahal, kita udah bisa tebak – pasti dari real leather, at least. Lagipula, detail pada sepatu, dkk. lebih rumit. Hold on, I’m not talking about haute couture – tapi pakaian sehari-hari. Kita pasti bisa membedakan sepatu yang lebih mahal melalui jahitannya, benang yang digunakan, dan kerapihannya. Ini sih analisa gw aja, hahahaha… Jadi sepatu, dkk. adalah simbol prestise seseorang. Kira-kira begitu.

Kalau motif-motif keagungan tersebut diletakkan pada sepatu, yang merupakan salah satu alat ukur prestise seseorang – apa masalahnya? Karena brand sepatu yang mengaplikasikannya pun Adidas, which is a brand that just can be afford by several people from particular society class. Iya, mungkin sang desainer hanya meletakkan motif-motif tersebut dalam rangka melengkapi satu set desain edisi batik tersebut. Ada topi, jaket, dan sepatu. Lah – semuanya sama-sama aplikasi kan? Semuanya sama-sama aplikasi pada produk komoditi budaya populer. Nilainya sama saja kalau menurut gw. Nilai aplikasinya bukan ada di kepala, di badan, atau di kaki – tapi pada produk komoditi budaya tersebut.

Kedua, kaki bukan bagian rendah menurut gw. Kaki adalah bagian tubuh yang membantu kita berpijak. Pijakan itu butuh platform, jadi kaki adalah platform-nya tubuh kita. Bahkan kepala pun, di mana ada otak – ngga bisa BERDIRI TEGAK kalau si orang yang punya kepala ngga punya kaki. Kaki adalah dasar. Kaki pun yang membawa kita melangkah mengikuti kata hati kita. Kaki adalah bagian yang tidak kalah penting dibandingkan kepala. Waktu seseorang berusaha menguasai sesuatu, kaki adalah bagian tubuh yang BIASA digunakan. Contoh: ketika sampai di Indonesia, para penjajah pasti menginjakkan kakinya duluan di Indonesia bukan kepalanya. Makanya ada peribahasa ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’, Kaki dulu kan? Bukan langit dijunjung dulu baru bumi dipijak. Ketika kita Cristopher Columbus sampai ke Amerika pun dia menginjakkan kakinya dulu, dan kemudian berita bahwa Amerika adalah hasil temuannya pun mengikuti. Intinya, kaki itu melambangkan kekuasaan dan dasar dalam hidup seorang manusia.

Jadi, yaitu – masalahnya bukan di bagian tubuh yang mana motif-motif tersebut digunakan, tapi sebagai apa. Lebih baik, menerangkan kepada masyarakat – dimulai dari masyarakat Indonesia dulu – tentang nilai yang terkandung pada motif batik. Lagipula, Adidas menggunakan motif tersebut dalam konteks MODE. Tren sepatu itu sih bisa pudar, tapi nilainya yang ngga bisa pudar. Jadi lebih baik concern ke sosialisasi nilainya, bukan ke aplikasi batiknya. Lagian, aplikasi batik pada Adidas membuktikan bahwa komoditi budaya populer pun mebutuhkan budaya tinggi (yang dianggap oldskool) sebagai inovasi dan inspirasi. Artinya secara ngga langsung, dan sadar atau tidak – mereka, Adidas mengakui eksistensi motif-motif tersebut.

Dressing is a way of life. (Yvess Saint Lauren)

Kalau motif-motif batik yang agung itu nempel di badan – which called dressing, artinya motif-motif tersebut adalah jalan hidup orang yang menggunakannya. Seharusnya. Kembali lagi kan? Masalahnya dia ngerti atau ngga… Aneh ngga gw?

FREAK

Satu malam. Seorang temen meng-SMS gw:
Gab, gmn seandainy lo pgn bgt putus sama co lo (PENGEN BANGET).
Tp klo lo putusin, dy ngancem bkl bunuh diri (misal dy emg FREAK).
Lo bkl gmn?

Gw pun me-reply SMS-nya:
Gw jwb ‘Bunuh diri aj gih lo!’
(Lagian gw ngga akan punya pacar freak kali)

Gw cuma geleng-geleng kepala setelah mendengar pertanyaan konyol itu. Orang aneh mana lagi sih yang mengancam mau bunuh diri kalau diputusin pacar?! Masih jaman, yak?

Ini yang suka gw ngga ngerti – pernyataan, ancaman tepatnya, untuk bunuh diri dengan dalih cinta. Bodoh banget sih. Untungnya, pacar gw ngga pernah memberikan pernyataan atau ancaman akan bunuh diri dengan dalih karena dia begitu cinta sama gw. Artinya gw ngga pacaran sama orang bodoh – untungnya.

This just cannot get into my mind. Berani bunuh diri adalah tanda cinta. Absolutefuckingly S-T-U-P-I-D.

Bunuh diri itu ngga sama dengan berkorban, menurut gw – ya terserah menurut orang lain. Bunuh diri adalah tindakan yang disengaja untuk membunuh diri sendiri, biasanya dengan mencelakakan atau melukai diri sendiri: “Kalo lo putusin GW, GW bunuh DIRI (which is diri GW).” Bunuh DIRI punya fokus terhadap diri sendiri. Jadi dasarnya adalah sifat posesif berlebihan dan egoisme diri. Jelas beda sama berkorban sampai mati. Tujuan utama berkorban sampai mati adalah berkorban, bukan keinginan untuk mencelakakan diri demi orang lain – tapi keinginan untuk MEMBERI sesuatu kepada orang lain. Kalo ujung-ujungnya sampe mati, ya urusan belakangan – resiko berkorban juga. Kebersediaan orang untuk berkorban sampe mati jelas punya fokus kepada orang lain. Orang yang diberikan pengorbanan. Dasarnya adalah rasa sayang atau kasih atau cinta, whatever…

Gimana coba kalo sang pacar tiba-tiba ngomong gitu?! Dasar ngga berlogika. Diri sendiri aja pengen dicelakakan – sayang diri sendiri aja ngga becus. Apalagi sayang sama kita?! Pacar yang mengancam bunuh diri karena kita dengan dalih cinta, sudah pasti tidak bisa menyayangi kita dengan benar dan dengan tulus. Dia sayang sama kita karena dirinya mendapatkan sesuatu. Dia terlalu sayang sama dirinya. Yah, setidaknya itu menurut gw. Dasar aneh.

Yah… Ngga heran sih kalo yang ngomong orang freak.

maybe they are

1
Suatu hari seorang teman bertanya padaku: “Menurutmu, apakah dia laki-laki yang cukup tepat untukku?”
Aku tersenyum, “Kamu mau jawaban yang jujur atau yang menghibur?”
“Yang jujur. Kamu kan temanku.”
“Baiklah. Satu lagi: Kamu harus pilih, bersama dengan seorang laki-laki yang selalu memujamu karena dia begitu mencintaimu atau bersama dengan seorang laki-laki yang mampu memberikan rasa aman lahir dan batin?”
“Kamu gila, ya?! Tentu saja lelaki tipe kedua.”
Aku terdiam. Sedikit tidak enak mengatakannya. “OK. Dia bukan laki-laki yang tepat untukmu.”
“Aku bingung dengan perasaan ini.”
“Itu ruginya kalau kamu masih punya rasa cinta.”
“Iya, aku mencintainya – walau tidak penuh.”
“…”
2
Di hari yang lain, seorang teman mulai bercerita. “Aku putus dengannya.”
Aku terdiam, agak lama – berusaha mencerna perkataannya. “Lagi???”
“Iya. Kali ini pasti.”
Aku tersenyum (lagi-lagi), “Kamu mau pasang taruhan berapa? Pasti nyambung lagi.”
Dia menggeleng dengan pasti. “Ngga, kok. Kali ini bener!”
“Aaah, kemarin kamu juga bilang begitu!”
“Bener! Aku serius kali ini. Aku sudah bulatkan tekad.”
“Sekali pun dia yang minta balikan, dan walaupun kamu masih cinta?!”
“Pokoknya aku ngga bisa.”
“Memangnya kenapa sih…? Putus – sambung.”
“Dia sadar bahwa dia terlalu egois, dia belum siap untuk berubah. Dia masih ingin bersenang-senang.”
“Lalu, apakah kamu tidak mau memberikannya sedikit waktu?”
“Aku ngga bisa. Aku selalu ingin dia jadi perempuan yang seperti aku ingin.”
Aku menghela napas. “Yah… Kalau hal tersebut memang keputusanmu, asal jangan jadikan hal ini seperti mainan.”
“Tidak, aku benar-benar serius.”
“…”
3
Di hari yang jauh lebih belakangan, seorang teman perempuan menghubungiku. Kami berbicara di telepon. Ia pun mulai bercerita.“Aku bingung. Aku lebih ingin menyudahi hubungan ini.”
“Apa kamu yakin? Kamu tidak ingin membicarakannya terlebih dahulu?”
“Otakku sudah terlalu buntu untuk dipaksa memikirkan hubungan ini.”
“Apa kamu tidak mau mencoba melihat dari sisinya?”
“…”
“Yah, tapi dia memang keterlaluan sih.”
“Nah?! Wajar kan kalau aku tidak ingin mempertahankan hubungan ini?”
“Itu pilihanmu, tapi jangan lupa – selesaikan dengan adil dan baik. Kita sudah dewasa.” Aku pun tertawa.
“Iya, aku mulai mencari waktu yang tepat. Aku sudah tidak tahan, tapi aku rindu padanya – berkali-kali.”
“Itu bagian dari proses.”
“Rasanya aku tidak bisa berhenti mencintainya.”
“…”
4
Ini hari yang lain.
“Dia menyuruhku menentukan perasaanku.”
Aku tersenyum dan menanggapi, “Apakah kamu begitu sulit mengidentifikasikan perasaanmu setelah laki-laki baru itu datang?”
“Iya, aku sangat menyukainya tapi aku tidak mau meninggalkan segala sesuatu yang sudah aku bangun bersama laki-laki pertamaku.”
“Kamu harus lihat ke depan. Bagaimana kalau ternyata lelaki kedua itu adalah ‘orangnya’?”
“Sepertinya tidak mungkin.”
Aku tertawa, “Iya. Kamu pasti tahu kan, tidak akan pernah ada laki-laki lain yang bisa mencintaimu lebih baik daripada lelaki pertamamu?”
“Iya.”
“Lalu?”
“Aku sangat menyukai lelaki keduaku.”
“Ya sudah. Katakan saja kepada lelaki pertamamu.”
“Aku tidak bisa. Aku tidak mau kehilangan dia.”
“Lalu? Bagaimana kalau lelaki kedua itu adalah garis hidupmu? Bagaimana kalau kamu memang mencintainya?”
“Iya.”
“Ah, kamu hanya penasaran.”
“Lalu bagaimana jika seperti yang kamu katakan adalah benar? Dia, sang lelaki kedua, adalah garis hidupku? Aku bisa salah seumur hidup.”
“…”

5
“…”
Aku menjawab, “Mungkin dia memang orang yang tepat, sangat tepat untukmu – hanya saja ia datang di waktu yang salah.”

*Untuk orang ke-1, 2, 3, 4 – terima kasih ya, maaf curhatnya diadaptasi jadi tulisan blog :)

l o v e

A bit of love would hurt you much.
A lot of love would escape yourself.
A love beyond measurement would keep you alive.

Ini cuma serangkaian kalimat yang ditemukan setelah pemikiran ngga penting yang lumayan panjang.

not merely a friend

This is the thing I REALLY HATE in friendship: Letting your friend to have an unhealthy relationship. A relationship which is not good for her growth of heart. It is hard to let your friend going through to her relationship with a ‘yeah-just-an-average-and-he-seems-fine-just-because-you-love-him’ man. Then here comes the thing that you have to do: Letting your girl going through a relationship which you already know that it would hurt her, and say: I’M HAPPY FOR YOU BOTH & HAVE A HAPPY JOURNEY!

You know that you just have to wait for the BANG!!! The hard crash that would earn two possibilities: your girl’s destruction or your girl’s change into an iron-er woman.

We all know that there would be no perfect man in this whole WILD world. There’s no way that there would ever be a prince charming. Never – ever! We all have to see (and let) our girls going through to their unperfect men, and letting them learn how to accept them back when they hurts. This SUCKS! Open your arm, make your time, put your ears, and provide a shoulder – when finally she comes back just for crying when she has no one around her, whereas the real thing you want to do is crash her head back on earth and talk loud to her just for making her see the truth. And just when – finally she comes through her sanity, she goes back to mud – swims deeply. Until she does sinking AGAIN – deeper than before, and asking you for a hand – AGAIN.

All of us, woman or man – have to learn accepting our unperfect partner. We all are made unperfect, just to be completing each other when we find our partner. We won’t find a perfect partner, but we WILL find the one who’s compatible with us in everything. ‘You will just know when he comes, because you never want to let him slip on by even just for a sec’ once I told myself. We just simply want a hapiness for our girls – after all we, girls, have been through. Because it is so true, one of the hardest things in this world is being a woman.

Well, there is no greater power than love. You’ve been known and always know, that: All you need is simply LOVE. All I need is simply love. All that a woman needs is simply love. That’s ALL. Real and pure love. I don’t know if that kind of love exists. Yes, we all don’t know. It’s decade of Apple, fruit of technology – not love anymore. Almost all things are virtual, so is love. Love is a virtual thing not a real thing, this is how I oftenly think. How come women now become so cynical about LOVE? That includes me! And maybe you. There’s this joke: there are only two kinds of men – gay and jerk. Now here comes the truth about women: there are only two kinds of women – naïve and cynical (about men, relationship, and most of all – love). The first ones are they who believe that real and pure love does exist, and the other ones are they who deny to believe if that kind of love really does exist!

Your friend is just like you. All she needs is love. Because you are women. Woman is human. Love is a basic need of human – to love and to be loved. But I really hate this thing. Knowing that your girl chooses to be in a real serious relationship with a real seriously ‘you-have-never-imagined’ man who adores and loves her, while she OBVIOUSLY POSSIBLY CAN get a better man who adores and loves her equally. There’s this guy my girl’s dating. The guy whom at first I thought as an outstanding personality person. I scored him as an over-rated, note: AT FIRST. Then he proved it. He proved that I was wrong. You never really mean to cause any judgement over your girl’s lover, so do I. We – women – acts as ourselves, friends, lovers. We, true girl friends, never really mean to judge our girls’ lovers. The men just show it. So what’s the harm of putting their scores down? We don’t judge, we see fairly.

You don’t intend preventing your girl friend from being hurt. You just want her to be on a REAL PROCESS, not the process caused of her choice. That’s her choice anyway, and if she hurts – it’s the process though it’s different. But you just want her to grow – in a better way, not the way she’s in. You know she might have been in the point ‘X’ going through to point ‘Z’ if she’s not in this relationship. And now, you have to watch her reaching her point ‘X’ with her carrier – the same point ‘X’ that she should’ve been there if she’s not with THIS man. That’s the way I am thinking. And watching.

Well, there’s no greater power than love. Love will make you grow REALLY FAST, and love will stop you growing (or make you grow less). We love our girls – we, girls, always love each other. Girl friend is a person who will always be there, when no one’s around. Girl friend is a person who won’t directly blame you for the problems you cause, she will just make you think. Because she knows: You got the brain, you got the heart, you got all those things a woman need.

So here I am, standing still as a friend. Facing one of the hardest part of being a girl friend. It IS hard being a girl friend. Harder than being merely friend.