05 August 2009

lost

i want to get lost with you
















*gambar dari http://images.inmagine.com/img/inspirestock/ispc069/ispc069069.jpg

07 June 2009

Bloody Bad Monday

Monday morning. Sigh. Well it's 10.00 - OK, 10.30 - almost 11.00. It's morning, right? Wasn't it? Well, it's morning for me anyway. :D Just couldn't get my sleepy-head with big bed-hair out of my blue striped blanket. I am having a heavy headache (yes, I thought writing some things would kill the pain).

Think I need some Aspirins - hmm - or Advils.

Morning call with a heavy headache is a very bad idea for Monday. TRUST ME. I truly loath this!

I never really hate Monday morning since I live in Bandung. It's not like any other Monday mornings - they all talk about - in Jakarta. The traffic jams really piss us off. They're still Monday mornings but they're just easier here. Still, there's a bit of traffic jam we have to deal with and of course the feeling of damn-it's-Monday-and-it's-still-five-days-ahead-to-Friday. But Monday morning with a heavy headache is really worse than traffic jams. What a bloody bad Monday morning.

Please, send me the drugs quickly.

29 May 2009

Solemn Room


She stares at the window.
She embraces the sun's glow.

She sits still in her lazy chair.
She lets the smell of rose touch her hair.

She doesn't move anywhere.
She just wants to be there.

She sips in the peach tea and her mind goes as wild as sea.
She just holds her paint brush but then she rips her canvas.
She knows what it is to be late, but sometimes it is not about the haste. She steps back into her mind.
She reassures that everything is fine.

She takes cigarette - now that she has to forget how it felt.
She sips her peach tea.
She remembers her plea.

She knows he will always be there.
But sometimes it is just not fair.

Hear heart stands before the door. A never opened door.
Her plea is not as sweet as pea. Not as the sugar to her tea.
She never wants to rush it. Neither does she want to flush it.
She stares at the window. She'd never break her vow.
She never believes in fate.
Until everything is too late.

She knows he will open the door. If only...





She starts painting solemnly.




*gambar dari http://vi.sualize.us/view/f2d092fdbd0a88f0056ba8e75bc72a68/

21 March 2009

The things I would rather to embrace

I'd rather sit under the tree
day dreaming about every little thing
the wind whispers to my ears

I'd rather stay beneath that open sky
saying my little prayers
that one day i will be where i want to be

I'd rather follow the birds
tweeting my songs
that i would never be tired
















I'd rather hang out with my girls

taking sundaes without stopping
that it would make us sleep very tight at night

I'd rather go to the candy land
with all the dreamland creatures
that I would never have to work hard

I'd rather lay in the arms of the sun
and chatting with the clouds
that I would see the world as my playground

I'd rather be with you
and laughing at ourselves
that I would have myself overjoyed


...than stuck in here
behind the desk
thinking of every little thing i should do
that i would still get my self haven't finished my assignments
even for tomorrow


*sial ah



gambar: http://vi.sualize.us/view/37c7e6572663f121c6efa448ac95b40d/

21 January 2009

Resep (1/2 kopi + 1/2 cocoa) Dadakan

well, udara di Cimahi - hampir Lembang ini benar-benar dingin :) And I decided to make a cup of coffee! Dan ternyata: I got the taste! Yah, selera juga sih hehehew... Kata gw sih enak. Mau coba ngga?

VERSI PANAS (maybe you´d feel sexy and warmer) - untuk 1 cangkir
Bahan:
1 sdt kopi hitam (stronger will be better, gw pake Suiss karena itu yang ada di rumah)
1 sdt datar bubuk coklat
3 sdt krimer
1 sdt susu bubuk putih
2 sdt gula pasir
3 sdt gula palem
air mendidih

Cara membuat:
Campurkan semua bahan ke dalam cangkir seperti membuat kopi biasa, dan tuangkan air mendidih. It´s better to drink it in a rainy day with slippers and jacket on. Don´t forget your shawl and enjoy it in a sofa with little light :)
*cheers!


VERSI DINGIN (maybe you´d be chilling a little more) - untuk 1 gelas
Bahan:
2 sdt kopi hitam (stronger will be better, gw pake Suiss karena itu yang ada di rumah)
1 sdt datar bubuk coklat
4 sdt krimer
1 sdt susu bubuk putih
3 sdt gula pasir
5 sdt gula palem
1/2 - 1 sloki Jamaican rhum
es batu
air panas

Cara membuat:
Campurkan semua bahan ke dalam cangkir seperti membuat kopi biasa, dan tuangkan air panas sebanyak 1/3 gelas. Masukkan es batu sampai penuh. It´s better to drink it in a middle of sunny day while your watching your favourite infotaiment (because it would taste a lil´ bit more delicious)
*cheers!








N.B: Dua macam gula bisa diganti dengan gula buatan. Sama manisnya, kok!
*sumber gambar http://angelakaelin.files.wordpress.com/2009/03/photo_3412_200901071.jpg

20 January 2009

Marley & Me: Review


Kemaren malem, gw baru aja nonton film ini: Marley and me (hasil belanjaan DVD bajakan sepupu gw). Gw cuma menonton dan belum pernah membaca novelnya. Kalo gw harus mendeskripsikan film tersebut dalam dua kata, gw akan menggunakan: touchy and entertaining! It´s kind of lovely warm family movie I think, tapi kalo ngga suka anjing ya mungkin akan jadi sangat membosankan :)

Film yang bertokohutamakan (bahasa apa ini?) Jennifer Anniston dan Owen Wilson ini memiliki alur yang cukup ´biasa´: maju. Kalo gw bilang, yang bikin film ini jadi menghibur adalah kekonyolan dan kelucuan si Marley – anjing labrador retriever, karena kenakalannya yang menggemaskan walaupun sangat menyebalkan.

The neighbourhood call Marley as EVIL WITH A DOG FACE (mungkin kalo dia manusia, dia udah masuk SLB golongan D untuk anak-anak sangat nakal). Biar begitu, Marley selalu ada buat keluarga yang memelihara dia – waktu mereka sedih dan kesulitan. Menurut gw, film ini cukup berhasil menumpuk berbagai macam emosi untuk diledakkan di akhir film, yang cukup mengharukan (dan menyedihkan, karena gw NANGIS!)

Inti dari film ini adalah, seburuk apapun seekor anjing – mereka selalu punya unconditional love dalam hati mereka. Sejahat apapun kita kepada mereka – selama apapun, kebaikan kita yang cuma beberapa detik saja udah bisa bikin mereka tambah sayang sama kita. LOL. Beda sama manusia yang – karena nila setitik rusak susu sebelanga. Dog is more like, kemarau setahun dihapus oleh hujan sehari (ada ngga peribahasa begitu?) Bagaimana pun, gw lebih pilih manusia hehehe...

Gw jadi inget, ada temen yang bukan penyuka anjing pernah bilang: Iya, anjing setia dan baik, sayang umurnya ngga panjang!

Loh... Kalo umurnya panjang kenapa? >D


*picture taken from http://weblogs.sun-sentinel.com/features/arts/offthepage/blog/marley.jpg

Beberapa Jam Menjelang Pelantikan Obama

Sama seperti sekitar 199.999.999 warga Indonesia lainnya, plus warga dunia yang berjuta-juta – gw juga menantikan siaran pelantikan Obama. Sebenernya ngga ngerti politik juga sih, cuma biar eksis aja! LOL.

Barack Obama adalah salah satu presiden Amerika yang sangan fenomenal. Ya, sangat fenomenal – mungkin seperti Clark Kent yang muncul di tengah huru-hara: pahlawan, maksudnya. Semua orang, semua warga dunia – BERHARAP kepada Obama, yang bukan siapa-siapa mereka dan jelas-jelas bukan Tuhan. Mungkin sebagian besar manusia dunia mulai lelah berdoa kepada Tuhan (bagi yang beragama, bagi yang atheis ya berharap kepada manusia) – meminta keajaiban bagi dunia yang hampir hancur ini. Mungkin sebagian orang bahkan ada yang sudah lelah berharap pada Tuhan yang terkesan tidak menjawab. Tiba-tiba datanglah Obama di tengah situasi dunia yang merosot. Obama seketika menjadi jawaban bagi semua orang. Mungkin yang sudah lama berdoa kepada Tuhan berpikiran bahwa Obama adalah jawaban Tuhan; yang tidak percaya Tuhan pun merasa benar karena pertolongan pun datang dari manusia juga; yang mengira Tuhan sudah ngga mau bertindak pun merasa jawaban akhirnya datang dari manusia. Obama is the newest hero, not only for the states but also for the world.

Sebagai calon presiden negara adikuasa, yang memegang kendali atas buanyak negara di dunia ini – marilah kita bersama-sama berdoa agar Obama mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan mengambil keputusan dengan bijaksana. Amin. Haleluya!!! (GL mode: ON). LOL. Kok agak-agak mirip SBY ya nasibnya, pas naik – pas ada bencana. Pas-pasan dengan perang Israel-Palestina :) Ya, namanya juga pahlawan – masa dateng pas ngga ada apa-apa. Datengnya pas ada kehebohan dong!

Setidaknya, inilah fakta yang didapat: Dunia berharap pada Obama.

Ada satu fakta lucu yang gw dapatkan. Ini sih cuma pemikiran gw – yang sebenernya ngga penting aja. Seperti yang kita semua tau, Amerika Serikat selalu pro Israel, dan banyak sekali orang Yahudi di situ. Orang Yahudi, yang rival turun-temurunnya adalah Bangsa Arab. Orang Israel punya bahasa Ibrani dan orang Arab punya bahasa Arab. Gw mencari di www.babycenter.com, nama-nama yang pelafalan dan penulisannya sama (dalam Bahasa Inggris) yang berasal dari Bahasa Ibrani dan Arab. Ternyata gw hanya ketemu satu nama, yang akar kata bahasa Arab dan Ibraninya sama: Barack. Artinya blessing (berkat). Menurut gw, calon presiden negara Amerika Serikat yang biasanya menjadi fasilitator dan pengendali segala aktivitas dunia ini, emang udah di-set dari sononya untuk jadi leader (sotoy mode: ON).

Well, gw – satu dari sekian banyak orang – cuma berharap, agar Obama benar-benar menjadi Barack, kenaikannya menjadi blessing/berkat. Menyatukan dua bangsa: Israel dan Arab, yah setidaknya mendamaikan, yah setidaknya menghentikan perang. Semoga USA di tangan BARACK Obama benar-benar menjadi fasilitator pemberhentian peperangan tersebut. Biar warga dunia pada ngga rewel, terutama WARGA IDONESIA! Nyebelin deh, lihat yang demonstrasi bolak-balik pengen ke Palestina, pengen bantu Palestina. Negara sendiri aja kacau! Kenapa ngga bantuin saudara sebangsa setanah air saja...

Pamer, Ah...

Karena foto Natal baru ditransfer tadi (haha, setelah pencarian card reader yang raib entah ke mana), jadi foto pohon natal ini baru bisa di-posting sekarang :)

Setiap tahun, keluarga gw gemar mengganti-ganti tema dekorasi Natal yang dibuat sendiri dengan bahan seminimal mungkin. Contoh, buah pinusnya mungut dari halaman - karena banyak pohon pinus. Dan sang kreator adalah oma gw tercinta (67 tahun) yang gemar sekali ber-handicraft dan menjahit jika matanya yang lumayan lamur sedang mau bekerja sama.

Bagus deh pohon Natal ini.




15 January 2009

Perbaikan Sistem Otak

Yup, nampaknya otak gw perlu perbaikan komposisi sel-selnya. Gw masih mikir - MASIH - tentang posting gw beberapa hari terakhir tentang samen leven. Mungkin gw bukan satu-satunya perempuan jaman sekarang yang berpikiran seperti itu :) pasti kalau ada orang tua yang baca postingan gw itu akan geleng-geleng kepala. Open minded itu boleh tapi memang harus ada batasnya. Norma dan nilai budaya tempat di mana kita hidup lah yang membatasi. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Tetap saja kita butuh pernikahan sebagai lembaga :) lagipula, siapa lagi yang akan menjaga nilai-nilai tersebut kalau bukan kita? (Rgh...)


Yah, nampaknya gw butuh obeng, tang, paku, sekrup, dan perkakas lainnya untuk memperbaiki komposisi sel-sel otak gw yang salah ini. Tapi yang namanya maksa tetep aja susah ya...

*gambar diambil dari http://www.shahphoto.co.uk/wedding-photography-cornwall-03.jpg

09 January 2009

sisterhood of the traveling pants 2 - review

Gw baru nonton film ini lo. Agak basi memang :) gwnya bukan filmnya! Ceritanya yah, klise - cerita remaja gitu, cuma interior design dan fotografinya bagus. Apalagi kamarnya Lena Kaligaris (Alexis Bledel), it is so beach house in softer and lighter version :)

Sebenernya, gw selalu berpikiran bahwa film ini adalah promosi wisata Yunani haha (baik yang kesatu maupun yang kedua)



gambar dari http://www.iwatchstuff.com/2008/04/10/sisterhood-pants-poster.jpg

WHY CASHMERE?

Banyak yang tanya kenapa gw pake CASHMERE?

Karena gw suka. As simple as that! Ngga ada hal-hal filosofis di baliknya, muncul begitu saja dan terdengar indah dan indah juga ketika dilafalkan menurut gw ya sud, jadi deh.

Gw suka kain itu, karena sangat lembut dan bisa dipakai dalam segala cuaca. Waktu panas jadi adem waktu dingin jadi anget. Membuat kita nyaman. Cuma karena gw suka dan ngga ada alasan lain. Titik.

Beauty of The Bumble Bee

Life is full of beauty. Notice it. Notice the bumble bee, the small child, and the smiling faces. Smell the rain, and feel the wind. Live your life to the fullest potential, and fight for your dreams.

Ashley Smith.

Life is full of beauty. Iya, bener. Cuma sayangnya, kadang-kadang hal-hal yang indah kelihatan jadi hal-hal yang paling jelek kalo pake ukuran mata manusia. Jadi gimana donk biar punya mata batman?! Mungkin melihat segala sesuatu dengan kasih akan membuat segala sesuatu menjadi, setidak-tidaknya ngga terlalu buruk – dan pasti dengan kompromi dan lapang dada.

Beauty of a bumble bee: bagus sih bagus tapi nyengat! setidak-tidaknya menghasilkan sesuatu yang manis pada akhirnya. Madu :) Itu juga hidup menurut gw. Sok filosofis banget sih gw

Another Unfamous Quote

The way to have it all is to let yourself having a part imperfect and being grateful for it (author: gw doooonk!)

20 Something Syndrome

Beberapa kali gw bercakap-cakap dengan beberapa teman perempuan, yang kurang lebih sebaya dan yang bikin gw heran adalah: Apakah para perempuan di usia 22-23 ngga punya bahasan lain kecuali laki-laki dan pernikahan. Jujur aja, gw terlibat dan ngga diem dalam percakapan-percakapan tersebut, tapi SUMPAH gw eneg! This world is coming to an end dan masih banyak hal lain yang bisa dipercakapkan selain kawin! Buset dah, mungkin ini sindrom baru lulus kuliah dan mau lulus kuliah! Atau sindrom umur dua puluhan?

Dua minggu terakhir ini, gw dihujani dengan pertanyaan tentang pacar, tentang calon istri calon suami, calon menantu, calon mertua, rencana nikah, dst. Jujur, kalo bisa gw pengen loncatin fase nikah tapi langsung berkeluarga, bisa ga? Bisa dooong... (begging mode ON) LOL. Akhirnya gw empet dan ngga sengaja membentak temen terakhir yang curcol tentang dream wedding and dream groom-to-be nya. And this thing officialy reached its climax when an old friend of mine called me and say: Geb, bantuin bikin undangan, souvenir, dan packaging nya buat wedding gw donk!

Gw pengen tidur dulu ahhhh, sampe ketemu di umur 30.

Mau tidak mau, fase ini harus dihadapi walau menakutkan :( Waktu itu, gw ditanya sama Astrid – mau menikah umur berapa. Lalu gw berpikir lama, dan Elsa nyeletuk: Gaby ngga mau nikah tapi maunya kumpul kebo! Daaar! Elsa, sebenarnya dalam hati gw bertanya-tanya kenapa lo tau gw pengen samen leven aja LOL. Seriussss... Gw hanya berpikir bahwa pernikahan sudah ngga cocok untuk era seperti ini. Pernikahan yang seharusnya jadi urusan antara dua orang dan Tuhan (dengan pendeta atau ulama atau pemuka agama lain sebagai perantara), sudah semakin dicampuri tetek bengek komoditi budaya sekarang, yang pasti berubah dari tahun ke tahun. Jadi si dua orang ini udah ngga fokus lagi dan akhirnya banyak perceraian deh. Gw ingin berkeluarga tapi ngga ingin menikah, gw ingin menikah kalau pernikahan itu jadi AJANGNYA (ajaaaaang LOL) antara gw, pasangan, dan TUHAN saja. Titik.

Tau ah, ini nih idealisme anak ingusan 22 tahun yang disebut anak perawan oleh orang-orang tua.

Budaya dan gaya hidup yang sudah jadi bagian dari pernikahan lah yang menjadikan marriage doesnt fit this era anymore. Ini murni pendapat gw lo, setiap orang berhak punya pendapat yang berbeda, Tetetk bengek pernikahan yang kemudian jadi lebih penting membuat kebanyakan orang melupakan esensi pernikahan itu sendiri. Fatalnya kalau si kedua mempelai yang lupa. Padahal pernikahan hanyalah sarana untuk mengukuhkan hubungan antara dua orang. Jadi yang penting hanyalah dua orang itu (dan kerabat TER dekat – kompromi nih gw). Soul connection mereka adalah yang terpenting, dan pasti setiap pasangan punya cara yang berbeda dalam mendefinisikan hubungan mereka.

Jadi bingung. Kebanyakan perempuan pasti pengen keamanan lahir batin dari pasangannya, sebuah istana kecil kata sahabat gw. Istana kecil itu cuma imaji-imaji yang terbentuk dalam pola pikir yang membuat kita menentukan patokan-patokan yang akhirnya mendatangkan kekecewaan menurut gw. Jadi gw menginginkan suatu hubungan dengan seorang pasangan, yang ketika bersama dia gw tau bahwa gw merasa punya dia SAJA sudah cukup karena kalo materi gw bisa cari sendiri. Gw kan bukan orang invalid. Masalah suami menafkahi istri hanyalah sebuah kesadaran dan tanggung jawab moral lelaki yang diwujudkan melalui bekerja dan materi – pada umumnya. Bukan berarti ngga bisa diwujudkan dalam bentuk lain. Gw cuma pengen pasangan yang bisa dijadikan partner dan teman.

Ngalor ngidul gw, masalah nikah ya gw tetep aja ngga tau.

Ternyata Memang Bagus

Pertama, SELAMAT TAHUN BARU 2009!

Ternyata blog ini udah lumayan lama tapi ngga pernah go public. Ngga tau kenapa, gw masih ciut nyali aja tulisan gw dibaca ma orang-orang. Payah ah. Mungkin itu harus jadi salah satu resolusi tahun baru gw: BERANI meng-GO PUBLIC-kan blog iseng ini! LOL

Sebenernya gw lagi ngga punya ide dan ngga punya keinginan untuk menulis. SUMPAH ini bukan gw yang pengen nulis tapi blog nya aja yang ngotot minta diisi! :) Hm, ada sih beberapa orang yang nanyain - tanggung jawab moral mungkin. Jadi, gw memutuskan untuk menulis ini! (eh, ELU! maaf ya, you know i am talking to you - gw jadiin bahan tulisan nih)

Tadi, dan kemaren, dan kemarennya lagi - temen gw cerita terus-menerus tentang sang pacar. Duh, perempuan emang ngga punya bahasan lain mungkin selain lelaki. Dia terus-menerus mengeluh tentang sang pacar yang terus-menerus menghubungi sang mantan. Lebih parah lagi, sang pacar seringkali membicarakan mantannya di depan temen gw ini. THAT IS JUST REALLY IMPOLITE AND LACK OF MANNER!

Lalu yang membuat gw terus-menerus berpikir tentang sang pacar teman ini adalah bahwa - SEPERTINYA sang lelaki ini sangat mencintai teman gw. OK, tapi kok ngga diimbangi dengan tingkah lakunya ya? Itulah yang gw sayangkan. Gw berulang kali juga bilang ke temen gw ini bahwa ACTION SPEAKS LUDER THAN WORDS, dan dia harus bilang ke sang pacar bahwa HIS ACTIONS WORTH MUCH MORE THAN HIS WORDS AND ROMANCE EFFORT.

Saking keselnya, gw sampe nge-IM temen gw dan bilang:

Dia tuh ngga perlu ngomong betapa dia takut kehilangan lo,
betapa lo adalah denyut nadi dan hembusan nafasnya,
betapa buluh perindu memicu jantungnya waktu lo jauh
betapa lo adalah ratu di hatinya
betapa dia siap melewati hutan segara tanpa kuda dan baja
demi bersatu dengan lo.
AND ALL OTHER SHITTY LAME LOVE THINGS!
Direct action dia tanpa kata-kata pun sudah menyampaikan jauh lebih banyak makna dibanding sejuta sumpah setia. HUH!

Ini maksudnya mau melebih-lebih kan biar temen gw kesel, tapi dia malah suka dan bilang: Pacaran sama lo aja deh, Gab!

GILA! Ogah banget gw! Im straight and have no intention to be bi (read: bisexual)
Damn u


05 December 2008

maskot yang bikin gila!

Sebenernya maskot apaan sih?

Kalo kata Om Egi, tadi: Maskot dan logo adalah identitas kampanye. Maskot seolah-olah adalah logo yang hidup, keduanya menandai dan menjadi ciri khas kampanye yang kita buat. Lalu, maskot tersebut menjadi perantara antara pesan dan masyarakat sehingga menjadi pengikat, biasanya ada di dalam kampanye yang bobotnya lebih serius dan dilaksanakan dlam jangka panjang.

Lah terus? Gw udah buat logo dan gw udah buat maskot. Maskot sebagai ambassador kampanye, yang rencananya akan diletakkan di dalam TVC saja. Lah, tapi ternyata Om Egi bilang, kalau kamu punya maskot - harus diletakkan di dalam setiap visual atau print ad yang ada. Dalam semua media dia harus diposisikan sec
ara berkesinambungan karena maskot adalah identitas. Lah??? Terus dia bilang lagi, bahwa maskot biasanya digunakan sebagai pembantu penyampai pesan kalau visual kurang bisa berbicara. Lah kan ada tagline, Om?

Terus kata Om Andy, masko itu adalah duta sebuah negara dan logo adalah lambang sebuah negara. Lah beda lagi ini...

Terus kata Media Ide (http://media-ide.bajingloncat.com/), maskot adalah salah satu media untuk mengenalkan brand, atau membentuk brand awareness - iya sih ii bicara soal identitas juga. Mempermudah audiens mengingat pesan atau hal yang kita sampaikan kalau maskotnya merepresentasikan pesan dengan tepat. Nah, masalahnya - visual yang sudah dieksekusi untuk print ad kampanye kawasan resapan air gw ga perlu pake maskot - sedangkan maskot harus diletakkan dalam setiap media. Kumaha ieu?

Lalu, maskot culun spons imut ini harus dipake atau didepak saja? (Belum punya nama lo dia...)





29 November 2008

Namanya Life Insight ya???

Thanx to Stephanie & Juven. Karena mereka menyadarkan gw. Kemaren sore, gw lagi buru-buru mau makan sate bareng teman-teman yang lain tapi dipanggil sama dua orang itu dulu. Mereka mau tanya. Mereka tanya insight gw dalam hidup: cara gw memandang hidup. Karena gw buru-buru jadi jawaban gw spontan dan biasanya, jawaban spontan datang dari hati yang jujur karena tanpa dipikir. Iya kan?


Ini jawaban gw:

Gw ngga suka masa lalu. Gw suka hari ini dan masa depan. Karena gw hidup hari ini dan di masa depan gw bisa punya target, rencana, dan bisa maju. Seindah-indahnya masa lalu, gw ngga akan pernah kembali ke masa lalu. Masa lalu memang kasih kita pelajaran, tapi aplikasi pelajaran dari masa lalu ditentukan hari ini.

Ya ampun setelah gw pikir-pikir lagi, pandangan hidup itu menggambarkan kepribadian yang keras deh. Gw langsung, dengan sedikit ngga terima, masih bertanya-tanya sama diri gw sendiri: sekeras itu kah gw dalam menghadapi hidup? Why do I have to be so hard?

Dulu, prinsip gw dalam menjalani hidup adalah think and act positive! Nah, kalo kaya gini kan manis. Enak didengar dan terkesan optimis dalam menyikapi hidup. Well, times change us – then I become into a darker person. I came a bit bitter :) Kenapa gw sampe punya pikiran seperti itu? Ternyata buat gw sekarang, hidup itu ngga pernah bersahabat. Kita yang harus bersahabat kepada hidup. Buat gw kemanisan dalam hidup itu cuma dandanan (mungkin biar kalo kita ditulisin biografinya waktu udah meninggal jadi ngga terlalu membosankan). Hidup itu indah bagaimana cara kita melihatnya, buat gw kepahitannya adalah keindahannya – termasuk cara kita membuatnya menjadi manis. Keindahannya ada pada proses.


Maybe this is the circumstance I am staging, tomorrows will have their own story.

Akibat Kurang Baca?

Gw pernah ngomongin ini sama temen gw pas makan siang. Temen gw ini adalah seorang Katolik yang – liberal, bebas merdeka :) Cukup akrab karena kami sudah cukup lama berteman: empat tahun. Lumayan kan? Gw sendiri adalah seorang Kristen, yang – tidak terlalu fanatik dan tidak suka disebut religious. Christ didn’t come to bring a religion but He brought salvation in love (ini kalimat orisinil gw lo). Sedaaaaap…!

Kita ngobrol, tentang peran gereja. Yah sedikit mencoba menjadi sok bijaksana dan terbuka hehe… Obrolan kita berawal dari komik online yang melecehkan Nabi Muhammad itu. Sedang ramai. Kenapa umat beragama sekarang harus ribet sama hal-hal yang sifatnya provokatif begitu? Kalau percaya, ya percaya saja. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Perang ngga Cuma terjadi di antara umat yang agamanya berbeda, tapi di antara umat yang agamanya sama. Di sini sebagai orang Kristen, I mainly refer to Christian people. Kenapa harus balik nyolot kalo dinyolotin? That is obviously not love that Christ taught.

Negara ini sedang menuju kesudahannya. Kadang gw punya pikiran jahat, kenapa Indonesia ngga dijual aja? Mungkin Tuhan Cuma ingin membuktikan kebesaran-Nya lewat Indonesia – kepada dunia. Mungkin Indonesia akan mengalami perubahan besar-besaran, tapi perubahan itu ngga akan dicapai sebelum kita sendiri sadar akan kerusakan kita. Kemerdekaan yang kemaren bukan seluruh rakyat yang mengusahakan. Lihat bangsa Jepang dan bangsa-bangsa Eropa. Setelah dibom dan mencapai titik nol, Jepang benar-benar bangkit. Eropa setelah mengalami dark age, mereka mengalami revolusi dan bangkit. Mungkin Indonesia belum mencapai titik nol nya. Kita terlalu majemuk. Justru itu kan yang indah dari Indonesia? Kesatuan dalam perbedaan: Bhinneka Tunggal Ika.

Gw, sebagai Kristen sudah pernah baca beberapa bulletin dan majalah yang memuat artikel tentang transformasi Indonesia. Beberapa nabi dan nabiah dari berbagai Negara mendapat penglihatan dan nubuatan tentang pemulihan Indonesia: transformasi Indonesia. Kita pasti bangkit. Gw sih, selama beritanya baik, entah benar atau tidak diaminin aja. AMIN! Gw suka jalan-jalan ke berbagai gereja dan hal ini juga sudah mulai dibicarakan dan menjadi isu di antara gereja-gereja. Sayangnya, sepertinya mereka punya persepsi yang salah terhadap transformasi. Mentang-mentang beritanya datang dari utusan Tuhan yang Kristen, mereka pikir transformasi akan mengkristenkan Indonesia.

Gw dengan temen gw mulai terlibat obrolan seru. Kita berpikir dan sepakat bahwa tugas gereja (yang bukan gedung tapi orang) adalah menjadi terang, mengasihi sesama manusia sebagai wujud kemanusiaan Tuhan, dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. But there’s this one thing we forget: GOD IS LOVE. Bukan Kristen. Mengasihi sesama dengan tulus sudah mengabarkan Yesus kepada mereka. Tugas kita adalah mengasihi dalam wujud konkrit dan bukan mengkristenisasi. Well, I think banyak umat Kristen yang kurang jeli dalam membaca alkitab sampai akhirnya salah persepsi. Mungkin kesalahan persepsi inilah yang memicu perang antar umat muslim dan Kristen yang ngga pernah berhenti. Kita sama-sama ngga ngerti. Sama seperti umat muslim yang seringkali menyamakan Yahudi dengan Kristen. YA AMPUN ini salah sekali! Karena kita ngga tahu, punya kitab males baca – jadilah perang saudara.

Beberapa orang terpanggil menjadi penginjil, gw percaya itu – mengabarkan Yesus dalam cara yang ekstrim dan radikal tapi kita – WAJIB mengabarkan Yesus lewat inti ajaran-Nya. Yesus adalah kasih itu sendiri. Selama orang menerima dan setuju dengan kasih yang kita berikan, kita sudah menjadikan mereka murid-Nya. Biarkan saja status apapun yang melekat pada mereka, yang penting hati mereka setuju dengan kasih. Itu Yesus. After we’ve done our part, God will do HIS.

WHY Distance Matters?

Hal inilah yang seringkali gw pertanyakan tentang satu hubungan. Long Distance Relationship. Denger frase yang satu ini – rasanya berat banget. Gw juga ngga tau apa yang bikin berat. Eh. layak ngga sih hal tersebut gw sebut ‘berat’?

Gini maksud gw. Seringkali pasangan putus hubungan karena salah satunya harus pergi ke luar kota atau luar negeri. Susah buat LDR. Atau yang sudah berkomitmen LDR, akhirnya putus juga. Pasti komentar orang-orang, ‘Yah, emang resikonya LDR sih putus gini.’ Atau, ada yang sudah pasti minta putus kalo harus LDR. Ngga bisa LDR – bilangnya sih begitu.

Jujur aja, gw juga pernah LDR. Berat memang. Berat di ongkos! Ongkos pulang pergi kalo mau ketemu, dan ongkos pulsa yang pastinya. Tagihan membengkak – itulah efek terjelas yang gw rasakan waktu LDR. Well, mungkin kalau lama berjaraknya cukup lama – LDR akan menjadi sesuatu yang sangat berat. Terutama bagi pihak perempuan mungkin. Setiap perempuan membutuhkan kejelasan. Hahaha – klasik!

Well, artinya distance di dalam hubungan ngga hanya berarti jarak tempat. Distance berbicara mengenai waktu, usia, perbedaan pemahaman, dan lain-lain. Jadi ternyata LDR juga bisa terjadi bahkan ketika pasangan tersebut bersama-sama dan berada di dalam jarak tempat yang dekat, satu rumah misalnya. Satu rumah kalo udah ngga pernah omongan lagi ya sama aja LDR. Ada jarak intinya.

Well, relationship is still about make the distance closer atau bahkan ngga berjarak sama sekali.

Maaf Buat Danang (Bagian 1)

Aku mengetukkan jariku di dinding kamarnya. Ia datang membukakan pintu. Ia menyuruhku masuk, dia baru saja selesai mandi. Aku menghempaskan diriku ke sofa terakota kesayangannya. Sofa itu kenal dia jauh lebih dulu dibandingkan aku. Ia bercerita, sofa itu didapatkannya dari garage sale. Cuma delapan ratus ribu – murah untuk singgasana sebesar dan senyaman ini. Aku mulai mencari-cari kotak rokok di dalam totebag-ku.

Ah, akhirnya kutemukan candu itu. Iya, aku menyebutnya candu – karena tetap saja batangan tipi situ membuatku tidak bisa lepas. Terutama di saat-saat seperti ini, saat aku perlu tenang. Nyaman dan santai. Rokok adalah benda ketiga setelah dia dan tempat ini. Semuanya candu. Aku tersenyum sambil menyulut rokokku. Betapa aku beruntung, mendapatkan tiga hal ini. Aku mulai mencari posisi yang lebih nyaman. Aku perlu beberapa menit untuk membiarkan beberapa racun masuk ke dalam kepalaku. Racun tapi membuat senang. Ah, biarlah! Yang penting aku senang.

Aku mulai memejamkan mataku sesaat. Udara sore seperti saat ini selalu menantiku di kamar ini. Kamar yang tidak seberapa. Tidak terlalu besar, tapi selalu memanggilku kembali. Aku selalu kembali ke sini, untuk hal-hal yang lebih besar. Tempat ini juga racun, tapi bikin senang. Aku tidak peduli, yang penting aku bisa lupa segalanya di sini. Aku puas di sini. Semuanya di sini, selalu memuaskanku – walau sementara. Termasuk dirinya. Aku memperhatikan dirinya yang berjarak beberapa meter dari diriku. Sekarang dia sudah membuka bajunya, tinggal jeans robek-robeknya. Jeans itu sudah tujuh tahun dia pakai. Dari SMA. Wajar kalau sudah robek-robek, warnanya juga sudah pudar. Tadi waktu membukakan pintu, jeans itu berpasangan dengan kaos putih belel tapi udara yang sedikit panas memaksanya menanggalkan kaos itu. Lagipula, tidak akan ada tamu yang datang lagi setelah sore ini. Sampai besok pagi.

“Kamu punya air es ngga?” aku bertanya padanya, tapi sambil membuka pintu lemari es. “Aku mau buat es teh manis nih. Kamu mau?”
“Boleh. Aku masih harus selesaikan beberapa paragraf lagi. Nanti tolong bawa ke sini ya.”
Dia ada di depan computer. Saat-saat seperti ini, aku belum bisa mengusiknya tapi aku tahu dia akan segera meninggalkan computernya buat aku. Dia adalah seorang penulis. Belum jadi penulis besar, tapi aku yakin – suatu saat nanti pasti dia akan menghasilkan buku-buku best seller. Sekarang dia masih mencoba menyelesaikan calon novelnya yang akan diajukan ke publisher, dan menulis di beberapa kolom koran. Lokal dan nasional. Kadang dia mengirimkan beberapa cerita pendek juga, ke majalah dan koran. Bahkan majalah internasional. Semuanya lebih dari cukup untuk menghidupi dirinya. Dia penulis yang cukup produktif.
Aku meletakkan es teh manis di meja lampu yang ada di dekat computernya. “Ini ya, aku letakkan di sini.”
“Makasih ya. Sabar ya, Ma. Lima belas menit lagi.”
“OK. Aku kan bisa merokok di sofa.”
“Kamu nonton TV aja.”
“Ngga ah, nanti mengganggu Kamu. Aku tidur-tiduran aja.”

Aku kembali memejamkan mataku. Adzan magrib terdengar di telingaku. Hari ini aku datang lebih cepat dari biasa. Biasanya aku datang setelah waktu shalat magrib. Hari ini, tempat ini memanggilku lebih cepat. Aku baru saja bertengkar dengan pacarku. Sebenarnya, pertengkaran adalah hal biasa bagi kami. Aku cuma tidak tahan dengan perangainya yang temperamental. Kadang, kalau pacarku begitu marah – beberapa tanda biru menghampiri tubuhku. Sekarang aku langsung pergi begitu dia mulai marah. Aku sedang tidak rela dipukuli. Dulu aku mau saja dipukuli, karena cinta. Agak bodoh tapi lama-lama aku kebal. Apalagi setelah aku mengenal Danang, pemilik kamar candu ini. Dia mengalihkan perhatianku. Aku hanya belum bisa lepas dari Doni, pacarku. Karena kadang manusia membutuhkan beberapa waktu untuk mengumpulkan sesuatu, dan aku sedang mengumpulkan keberanian.

“Ilma…”
Suara Danang membangunkanku. Ternyata aku tertidur. Mungkin aku lelah. Semalaman aku tidak tidur. Pacarku menginap di rumah kontrakanku. Demi bertengkar denganku. Dasar gila. Pertengkaran gara-gara hal sepele: aku lupa membangunkan dia. Dia bilang, bagaimana mungkin ku jadi istri yang baik kalau membangunkannya saja aku lupa. Aku cuma tertawa saat itu. Siapa yang mau menikah dengan laki-laki tukang selingkuh? Lagipula, aku juga bukan pacar yang baik. Aku begitu takut sampai tidak bisa tidur, walau Doni tidur.
“Bungkusan kamu ini, makanan kan?”
“Iya, Nang. Buat kita nanti.”
“Aku letakkan di pemanas ya.” Danang merapikan makanan yang aku bawa untuk makan malam kami. “Kamu berantem lagi sama Doni?”
Aku tersenyum. “Ya begitulah. Sudah biasa ‘kan?”
“Dia nginep?” Aku mengangguk, menjawab pertanyaan Danang.
“Kamu dipukuli lagi?”
“Untungnya ngga tapi tadi pagi dia ngerusak rangkaian bunga yang aku buat. Dari dua hari yang lalu sih, tapi masih segar. Kesel aja ngeliatnya. Untung bukan vas kirstalnya yang dibanting!”
“Berantem dari malamnya?”
“Iya tapi dia tidur setelah tenang. Biasalah, aku kan perempuan – punya senjata. Kami berhenti bertengkar di situ. Untung masih bisa berhenti, Nang – tapi akunya yang ngga tidur.”
“Tapi Kamu lari dari masalah kalau ke sini terus.”
“Iya, tapi karena ada Kamu di sini.”
“Kamu selalu begitu.”
“Habis mau gimana lagi. Kamu selalu bikin aku senang, hanya saja aku belum berani pergi dari Doni.”
“Sampai kapan kamu jadikan aku pelarian, Ilma? Kamu selalu sembunyi.”
Aku turun dari sofa. Aku memeluk Danang yang sedang duduk di lantai, dari belakang. Aku menyandarkan kepalaku di punggungnya. Danang sangat berarti bagiku, tapi hanya saat ini. Aku tahu, aku akan menemukan perhentian-perhentian lain di kemudian hari. Aku tidak percaya cinta. Aku cuma percaya hidup harus senang.
“Kita kan sama-sama tahu, Danang,” aku berbisik di telinganya, “Kita cuma bersenang-senang. Asal kita sama-sama senang, itu cukup ‘kan?”
Aku mencium pipinya. Aku selalu senang ketika bersama Danang. Mungkin bukan senang, tapi aman. Aku tahu Danang tidak akan memukuli aku. Aku tahu Danang akan memuaskan aku sebagai perempuan. Aku bisa jadi aku ketika bersama Danang, tapi aku tahu – aku dan Danang cuma sementara. Aku hanya tidak ingin kehilangan waktu-waktu singkat ini. Aku memeluknya lebih erat. Danang membalikkan badannya, kini ia berhadapan denganku. Kami saling menatap. Napasnya terasa hangat di wajahku. Aku meletakkan tangan di pipinya, menyentuh kulitnya yang sedikit kasar.
“Danang, Kamu tahu ngga…”
“Apa…”
“Saat ini, Kamu satu-satunya orang yang bisa menenangkan aku.”
“Hm…?” Danang mengangkat alisnya.
“Iya. Kamu tahu kan, hubunganku dengan Doni. Aku sayang dia.”
“Walau dia lebih pantas ditinggalin aja?”
“Iya. Bodoh ya? Ngga tahu kenapa, susah untuk ninggalin Doni begitu aja.”
“Ilma, kita bicaranya nanti saja ya. Setelah kita selesai.”
“Aku masih kepikiran kejadian kemarin, Nang. Sepele.”
“Sepele, ‘kan? Bagaimana kalau aku membuatmu melupakannya saja?”
“Aku ngga konsen, Nang…”
“Aku yang bikin Kamu konsentrasi.”
“Danang, aku sayang Doni.”
“Kamu mau senang kan, Ma?”
“Danang, tolong…”
Tiba-tiba saja Danang sudah mengulum bibirku. Semua tentang Doni menguap begitu saja. Aku pun sudah mengulum bibirnya. Selalu begini, setiap hari. Kami selalu melakukannya di kamar ini, kamar candu kataku. Di setiap sudut kamar ini. Kali ini di lantai, di dekat sofa kesayangannya. Hatiku masih bersama Doni, tapi Danang selalu memberikan aku kesenangan dan kepuasan yang tidak pernah Doni berikan – yang dulu pernah Doni berikan. Bedanya, Danang hanya ingin bikin aku senang. Lagipula, dia juga senang. Lelaki mana yang menolak diberikan kenikmatan? Biarlah, yang penting aku dan Danang sama-sama senang sampai besok pagi. Aku senang, Danang selalu mematikan handphone-nya setiap kali aku datang. Tidak akan ada tamu sampai besok. Cuma aku dan Danang, dan senang. Tidak ada Doni, cuma SMS-nya. Danang mematikan handphone, tapi tidak dengan aku – itu kesepakatannya. Doni tidak tahu hubunganku dengan Dananglah yang membuatku bertahan dengannya sampai hari ini. Lagipula, hari ini Doni tidak akan SMS.

Kami sudah selesai, dan aku kembali mengatakan hal yang sama. Sama dengan hari-hari sebelumnya: “Nang. Makasih ya. Kita bersenang-senang bersama. Kamu hebat.”

Bersambung ah ah ah (cape)